Tuesday, 18 December 2012

Sahabat VS Teman

Kalau mau dipikir-pikir, menurut aku ada suatu perbedaan antara kata “teman” dan “sahabat”. Teman hanyalah orang yang nemenin kita saat kita happy, tempat kita kumpul dan have fun, tapi masih ada batas atau suatu rasa enggan untuk curhat atau ngomongin masalah pribadi atau untuk minta sedikit advice. Singkatnya kita belum ngerasa 100% enjoy tuk berbagi sepenuh hati dan jiwa (lebai…) ama teman.

Adapun sahabat adalah
memang bener-bener orang yang selalu ada dan deket sama kita saat seneng ataupun susah. Seseorang yang kita percaya dan mampu memegang rahasia kita. Seseorang yang selalu ada saat kapan pun kita butuh. Seseorang yang mau nerima segala kekurangan dan kelebihan kita. Seseorang yang membuat kita tidak lagi enggan untuk berbagi cerita apa saja. Jadi bisa dikatakan intinya kalau teman, belum tentu sahabat. Akan tetapi bila itu sahabat, sudah pasti teman. 


Waktu aku SMA dulu, ada seseorang yang pernah mengeluh kepadaku. Dia bilang bahwa selama ini dia sangat amat pengen punya sahabat. Walaupun sebenarnya saat itu dia punya Genk tapi entah mengapa dia selalu ngerasa kalo mereka belumlah menjadi sahabat baginya. Menurutnya, teman-teman satu genknya itu belum 100% bisa ngertiin dia dan bisa nerima dia apa adanya, ya kekurangannya atau kelebihannya. Mereka (teman-teman satu genknya) bukanlah orang yang selalu bisa men-support dia setiap saat.

Dia juga menambahkan bahwa dia selalu berdoa pada Tuhan agar diberi seorang sahabat. Namun disatu sisi tentang doanya itu, Ia sama sekali ga bermaksud untuk ga bersyukur pada Tuhan. Tentu aja karena Tuhan uda ngasih dia temen deket yang selalu nemenin hari-harinya di skul. Dia cuma merasa kalo mereka hanyalah sebatas teman dekat alias close friend, belum sahabat alias best friend.

Ngedengerin curhatan dia aku jadi punya banyak macam asumsi, diantaranya:
  1. Aku awalnya emang ngerasa kalo dia orang yang gak mau bersyukur ma Tuhan. Secara Tuhan uda ngasih dia temen-temen deket atau Genk, yang bisa ngebantu dia untuk enjoy dengan study-nya dan beradaptasi dengan lingkungan skul-nya.
  2. Ok fine, tentang masalah bersyukur atau gak. Itu urusannya dengan Tuhan. Menurutku mungkin aja mereka (teman-teman satu Genk-nya) adalah sahabat sejatinya. Mungkin belum aja ada suatu pembuktian atau kejadian yang bisa bener-bener ngebuktiin kalo mereka emang sohib sejatinya.
  3. Terus (mungkin ini pikiran jahat, gak baek to ditiru) aku mulai merasa bahwa dia adalah tipe orang yang terlalu perfeksionis atau terlalu banyak menuntut kepada orang-orang yang deket ma dia. Menuntut untuk lebih diperhatiin dan dimengerti. Secara kita manusia, pasti sulit banget lah untuk focus ke orang lain even to be focus sama diri kita sendiri aja masih sering lupa alias lalai. 
  4. (Dan pikiran jahat itu terus berkembang) Aku mulai berpikiran kalo hal itu terjadi karena dia-nya sendiri yang gak pernah mau tuk berbuat seperti itu duluan alias berbuat seperti layaknya seorang sahabat kepada orang lain. Bukankah segala sesuatu yang kita beri adalah sesuatu yang bakal kita dapat. Yah, walaupun gak ada satu kepastian kalo semuanya bakal dibales di dunia ini 
  5. Well, terlepas dari semua asumsi-asumsi di atas, aku tetep gak bisa nyalahin dirinya. Karena, biar bagaimanapun, setiap manusia berhak mempunyai expectation atau harapan untuk bisa menjadi dan merasa lebih baik dari sebelumnya. Lagian apa yang dia minta itu tetep suatu hal yang baik, ketimbang dia minta seorang musuh. Wah…parah banget pastinya….dan aku juga gak mau muna’. Jauh di lubuk hatiku (lagu Naff kalee..), aku juga pengen punya seorang sahabat yang memang bener-bener “sahabat”. Wah..wah…jangan-jangan aku ni tipe cewek perfeksionis juga….ck ck ck.

So…apa kabarnya lagi dengan diri aku sendiri. Well, alhamdulillah selama masa sekolahku, dari SD sampe Perguruan Tinggi seperti saat ini, aku masih dikelilingi oleh satu atau dua orang yang deket dan mau ngertiin aku. Di SD, anak yang paling deket ma aku mempunyai nama yang sama dengan namaku, yaitu Kiki. Terus ada lagi Yudi, Nova, dan Harti. Waktu SMP aku bareng-bareng Yuni, Deti, Yuz, Farah, dan Sahara. Waktu SMA, ada Rizqa, Aulia, Sarah, Yudi, Eka, Cici, dan Risma, yang selalu mau didekat aku. Terus di PT ne, ada Meizi, Dewi, Bimbi, Fandy, Achan, Uci, Risna, Kasfun, Dadang, Alsep, Ana, Bella, Upik, Ghea, kak Lola, dll…yang selalu ngebuat aku betah dateng ke kampus setiap hari

Aku gak mau mikir-mikir, apakah mereka itu adalah sahabat-sahabat aku atau mereka hanyalah temen-temen deket aku doang. Yang jelas keberadaan mereka di hidup aku telah ngebuat hidup aku lebih bermakna dan ceria. Di deket mereka, aku gak ngerasa sendirian. Dan pastinya, kalo ada kesempatan di dunia ini untuk jadi sahabat/temen dan punya seorang (beberapa orang, malah lebih baik) sahabat/temen pastinya asyik dan happy banget.
[05 November 2008]

No comments:

Post a Comment