Tuesday, 18 December 2012

Imaji

Saat ini aku sudah tertembak dua kali. Satu di kakiku dan satu lagi tepat mengenai otakku. Walau otak adalah pusat kegiatan tubuh, nyatanya jantungku masih berdetak. Dan disaat tembakan ketiga (mungkin lebih dari tiga) pasti ada yang mengenai jantungku. Ketika itu, hanya ada satu yang aku inginkan. Ku ingin dapat pergi dengan tenang. Yah, kalau bisa tampak tenang.

Mungkin tampak berlebihan, tapi aku seperti Rapunzel. Seorang penyihir jahat telah menculik dan mengurungku dalam masalah ini. Masalah yang selama bertahun-tahun ini membuat aku tidak bisa dengan tenang menghirup mentari. Dan sayangnya aku tidak sedang berada di dunia dongeng melainkan di dunia nyata. Dan mungkin tidak sejelita Rapunzel. Dan dimanakah pangeran atau ibu peri yang bisa menolongku. Karena itu ada peluang kisahku tak berakhir bahagia. Walau jauh di dalam tubuhku selalu berteriak “berusaha” dan “semangat”, bisakah hal itu merubah sesuatu?

Aduh…aku tertembak lagi. Bukan untuk yang ketiga, tapi juga yang keempat. Satu di tulang rusukku dan satu lagi di alveolusku. Pantaslah aku semakin sulit bernafas akhir-akhir ini. Akan tetapi, jantungku masih berdetak. Satu hal yang kini masih bisa aku perjuangkan. Aku yakin masih ada yang namanya “harapan”.

Karena sinar mentari itu indah. Membantu menjaga kehidupan dan keseimbangan dunia. Tentu saja sesuai dengan perintahNya. Oleh karena itu aku tidak ingin lagi berkata, “bila saja aku dapat merubah waktu, maka aku bisa menjadi yang terbaik.” Jika aku terus berkata seperti ini dan tak bisa menerima hidup seperti apa adanya, maka pastilah aku adalah orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini.

Kini yang bisa ku lakukan adalah menjaga. Aku sudah banyak menghilangkan. Dan aku tidak ingin merasa kehilangan lagi. Akan ku jaga dan ku syukuri segala yang sudah ku terima. Termasuk menjaga detak jantungku agar terus berirama sampai tiba waktunya untuk terdiam. Mungkin ku bisa bahagia dengan hal itu.

Ya, bukankah pergi dengan senyuman adalah hal terbaik yang bisa dicapai oleh manusia. Seperti sebuah kalimat di dalam sebuah buku. “sewaktu kita terlahir di dunia, semua orang tertawa bahagia dan hanya kita yang menangis. Oleh karena itu isilah hidup ini dengan iman dan amal sholeh, sehingga saat kita dimatikan nanti, semua orang akan menangis dan hanya kita yang tertawa”
[19 Mei 2007]


No comments:

Post a Comment