Wednesday, 19 December 2012

Hujan


Hujan emang salah satu fenomena alam yang mungkin sudah bukan barang baru lagi bagi seluruh manusia di bumi ini. Hujan adalah dimana terjadi pengumpulan air di awan sebagai hasil penguapan air-air di bumi oleh sinar matahari. Air yang telah terkumpul di awan tadi lalu turun sebagai curahan ke bumi. Biasanya hujan tidak sendirian. Maksudnya turunnya hujan itu diiringi dengan kilat dan petir serta deru angin. Bila melihat dari sisi islam, hujan merupakan salah satu rahmat Tuhan. Namun bila dilihat dari sisi seorang QQ, hujan itu lebih dari sekedar fenomena alam yang telah diceritakan di atas tadi.

Hujan telah membawa sense tersendiri bagi aku. Bersamaan dengan turunnya hujan, apalagi bila ditambah kilat dan petir, semakin membuat pikiranku campur aduk. Lalu aku mulai merasa seperti ada sesuatu yang menggumpal di ulu hati aku ne. Yupz, honestly, jarang sekali hujan bisa membuat diri aku ne merasa nyaman.

Ini sudah berlangsung, mungkin, dari lima atau enam tahun yang lalu. Dan hingga usiaku 19 tahun atau saat ini, rupanya makin bertambah-tambah pula alasan-alasan yang membuat aku merasa tidak nyaman dengan yang namanya hujan. Tapi yang perlu juga digarisbawahi disini, aku “tidak selalu” merasa mual saat hujan datang, tapi aku “cukup sering” merasa mual atau merasa ada sesuatu yang menggumpal saat hujan itu datang.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa. Well, ada tiga alasan utama yang ngebuat aku gak nyaman dengan yang namanya hujan. I’ll tell them one by one. Start from the earlier one.

 

Well, yang pertama itu adalah karena hujan mengingatkan aku kepada dosa-dosa yang udah aku perbuat selama ne di dunia. Yupz, apalagi bila hujan itu datang beriringan dengan kilat dan petir yang menjadi-jadi, aku pun jadi semakin ketar ketir. Entah dari mana awalnya, tapi hati dan pikiran aku secara reflek menganggap hujan, kilat, dan petir itu sebagai teguran dan peringatan dari Tuhan kalau aku udah banyak berbuat dosa. Kalo aku udah jarang sholat dan jarang mengingat Tuhan lagi. Apalagi tentang yang masalah itu. Seakan-akan petir itu mau menghukumku atas segala kekhilafan yang aku lakuin selama ini di dunia. Ini adalah alasan paling awal dan paling tua tentang mengapa aku tidak nyaman dengan hujan.



Berikutnya adalah alasan yang kedua. Ini baru mulai terlihat dan semakin terlihat saat tahun-tahun terakhir ku di SMA hingga aku kuliah ne. Dan alasan ini terasa begitu kuat bahkan terkadang sampai mengalahkan alasan yang pertama. Maksudnya saat hujan tuw, aku tidak lagi terlalu terpikir tentang dosa-dosa aku atau terpikir seakan-akan petir itu mau menyambar aku, tapi aku lebih terpikir tentang sense yang satu ini. Sense tentang kematian. Uhm…entahlah. Terkadang bila hujan datang, terlebih lagi bila hujannya malam hari, aku selalu merasa kalau itu pertanda bahwa ada yang passed away. Ini agak sedikit di luar logika dan mungkin saja hanya kebetulan semata. Tapi ada beberapa kali kejadian yang seperti itu. Hujan di malam hari, aku merasa gak enak hati, dan besoknya dari langgar terdengar pengumuman tentang seseorang yang telah passed away. Seakan hujan itu menjadi pertanda untuk hal itu. Dan hujannya tanpa perlu diiringi oleh kilat ataupun petir ataupun angin. Tapi tidak semua hujan bisa ngebuat aku merasa seperti itu. Maksudnya tidak semua hujan membawa sense seperti itu. Yupz, mungkin alasan yang kedua ini hanya alasan konyol atau hanya ketakutan tak jelas yang dibawa setan kedalam hatiku. Karna aku masih nyadar kalau aku ne manusia yang gak punya kekuatan apapun untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi atau sedang terjadi diluar daya penglihatanku. Tapi tak urung, alasan yang kedua ini sering muncul dan sering ngebuat aku merasa tidak nyaman dengan yang namanya hujan.



Lalu alasan yang ketiga. Aku merasa agak sedikit trauma untuk menceritakannya. Karena aku merasa bersalah nean dengan hal ini. Yupz, ini tentang Ezi dan kejadian di Danau Sipin sekitar tiga hari yang lalu. aku gak bisa menceritakannya dengan terlalu detail karna aku gak sanggup untuk mengingat perasaan yang begitu campur aduk tak karuan disaat itu. Jadi aku akan menceritakan intinya saja. Jadi waktu itu, aku secara gak langsung udah ngebuat diri aku sendiri dan Ezi terjebak di Danau Sipin karna hujan. Saat itu hujannya deras sekali. Karena hari udah sore, akhirnya mau dag mau Ezi nganter aku pulang hujan-hujanan. Memang sih saat nganter aku pulang, hujannya tidak terlalu deras lagi. Akan tetapi hawa dingin yang dibawa hujan tuw…ampuuunnn dag tertanggungkan. Gigi aku mpe bergemeletukan. Padahal aku yang dibonceng. Masih ada Ezi yang menghalangi aku terkena angin. Coba lah bayangin kayak mana pula Ezi. Pasti dia kedinginan nean. Dan malemnya hingga esok harinya dan esok harinya, rupannya hujan itu udah ngebuat Ezi sakit nambah parah. Aku nyesal nean. Ne semua karna aku yang gak mau dengerin saran Ezi untuk pulang lebih awal. Dan malah tingkah aku tuw ngebuat Ezi makin susah. Aku sedih nean. Walaupun aku bener-bener gak bermaksud kayak gitu. Tapi tetep aja itu gak ngerubah apa yang udah terjadi. Dan kejadian ini udah ngebuat aku semakin gak nyaman bila hujan datang.



Yupz. Intinya bagi aku hujan bukan cuman sekedar hujan. Hujan bukan cuman sekedar air yang turun dari langit bersamaan dengan kilat, petir, dan angin hingga hawa dingin. Tapi hujan juga sudah memahat sense-sense tertentu di hati dan pikiran aku ne. Bersamaan dengan turunnya hujan, aku pun jadi teringat sama yang namanya dosa, kematian, dan penyesalan. Satu-satunya yang buat aku nyaman dengan hujan adalah karena ingat bahwa hujan adalah salah satu rahmat Tuhan dan Ezi juga salah seorang pecinta hujan. Iya, walaupun hujan ngebuat aku gak nyaman tapi hujan juga ngebuat aku ingat Tuhan dan ngrasa kangen sama Ezi.



Hujan….hujan….hujan….

Uwwaaaaaa….

[06 Desember 2009]



PS: Tetapi saat ini aku tidak terlalu merasa seperti itu lagi. Maksudku, ada saat ketika aku merasa nyaman dan tenang saat mendengarkan riak suara hujan. Aku sekarang lebih berdamai dengan hujan. Hujan adalah rahmat Tuhan, :)


No comments:

Post a Comment