Tuesday, 18 December 2012

A Man



Kejadian ini sebenarnya sudah lama berlalu. Hanya agaknya aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Ada sesuatu yang berkesan yang bisa ku tangkap dari kejadian ini.



Ini terjadi di pagi hari ketika aku sedang berada di oplet untuk pergi ke sekolah. Oplet itu belum terlalu ramai atau penuh. Masih tersisa banyak tempat duduk. Saat itu aku duduk di deretan bangku yang berada di belakang sopir. Aku duduk di dekat jendela sehingga aku bisa melihat ke arah jalan dengan leluasa.



Di tengah perjalanan, saat oplet ku akan melewati sebuah pertigaan, aku melihat ada seorang pria, yang bisa dibilang masih muda, berdiri di atas trotoar.
Pria itu berpakaian kemeja kotak-kotak hitam dipadu dengan celana dasar hitam panjang. Kemejanya dimasukkan kedalam celananya. Ia juga memakai sepatu sehingga membuat penampilannya terlihat menarik. Rambutnya juga tersisir rapi dan aku juga tidak ragu kalau di pagi itu Ia wangi. Ketika (mungkin) kebanyakan orang seperti Ia masih belum mandi. Aku juga yakin kalau disaat itu Ia mengantongi beberapa lembar uang.



Tangannya terjulur ketika melihat oplet yang aku naiki itu melintas. Rasanya anak kecil pun tahu kalau Ia mau menumpang di dalam oplet itu untuk menuju suatu tempat yang tentunya tidak ku tahu. Dan sulit kupercaya, ternyata si sopir  bahkan kondektur oplet tersebut seperti berpura-pura tidak melihatnya. Mereka seperti tidak mau menaiki pria itu. Padahal tangannya yang putih, dan bibirnya yang bergerak seperti bersuara telah merupakan isyarat yang mudah untuk dipahami dan mereka pahami.



Aku pun bertanya dalam hati, mengapa mereka melakukan hal itu. Biasanya sopir maupun kondektur oplet akan semangat sekali bila ada peniumpang yang mau naik oplet mereka. Maka aku perhatikanlah dengan seksama pria itu. Ternyata di wajahnya yang putih itu tersirat tanda, yang mungkin siapa saja bisa membacanya. Suatu tanda keterbelakangan mental.



Akan tetapi, hal itu tidak seharusnya membuat Ia disepelekan seperti itu. Karena Ia sama sekali tidak pernah minta untuk terlahir dalam keadaan seperti itu. Justru seharusnya yang seperti itu menjadi tanda bagi kita, yang mungkin lebih beruntung dari dia, untuk bersyukur pada Tuhan.



Mereka (sopir dan kondektur oplet) tetap saja acuh dan seolah tak mau tahu kalau pria itu berlari menyusuri trotoar, mengejar oplet yang aku naiki itu. Ia terus berlari hingga (mungkin) Ia merasa lelah dan merasa tidak bakal terkejar. Lagi pula kecil kemungkinan untuk terkejar, atau mendahului mobil yang kecepatannya lebih tinggi dari kecepatan lari manusia.



Aku memang tidak tahu pasti apa alasan mereka melakukan hal seperti itu. Aku hanya mencoba menilainya dari apa yang ku lihat dan menurut prasangka ku. Aku merasa mereka secara tidak langsung, tidak menghargai Tuhan. Mereka seakan acuh ketika rezeki menghampiri. Dan mereka pun mungkin akan menggerutu bila rezeki datang menjauh. Sungguh manusia makhluk yang aneh dan rumit. Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak seperti itu juga. Aku terkadang bisa menjadi makhluk yang aneh dan rumit dalam berpikir.



Manusia bila dikasih kesedihan dan cobaan terus maka mungkin sekali akan bunuh diri. Akan tetapi, bila dikasih kebahagiaan dan banyak rezeki maka mungkin sekali akan lupa diri. Maka Maha Sempurna Allah yang mampu membolak-balikan hati manusia. Jagalah hati hamba ya Allah agar tetap di jalan yang Engkau senangi. Aamiin.

[29 Maret 2007)

No comments:

Post a Comment